Selasa, 19 Maret 2013

Jika di Malaysia desainer Jimmy Cho menjadi ikon dengan sepatu dan tas karyanya yang mendunia, Indonesia tidak perlu rendah diri. Adalah Nancy Go, seorang putri Indonesia keturunan Brazil yang berhasil merambah kancah mode dunia dengan tas-tas karyanya yang diberi merek ‘Bagteria’.
Nancy memang pandai memainkan citra produk. Ia dan suaminya, Bert Ng, memilih nama merek “Bagteria” yang terkesan global dan mengandung unsur humor. Menurutnya ia mengingkan agar Bagteria seperti bakteri yang mewabah, menjadi ‘infeksi’ di seluruh dunia. Mereka berdua merintis PT Metamorfosa Abadi, payung hukum Bagteria, dengan modal Rp300 juta, pada bulan Mei 2000. Mereka merintis workshop pembuatan tas dengan menyewa sebuah rumah, yang letaknya persis di depan kediaman keluarga Ng di kawasan Jakarta Barat. Waktu itu, mereka mempekerjakan lima karyawan.


Wanita yang lahir di Sao Paulo Brazil pada tanggal 6 Januari 1963 ini sempat disarankan untuk mendaftarkan ‘Bageteria’ di italia dan mengubah mereknya menjadi berbau-bau Italia. Tujuan dari hal itu tentunya tidak lepas dari masalah gengsi di mana Italia memang terkenal dengan fashionnya. Akan tetapi Nancy dan suami memutuskan untuk mempertahankan merek ‘Bagteria’ dan mendaftarkannya di Indonesia. Di Eropa dan Amerika, merek Bagteria sepadan dengan Louis Vuitton, Chanel, atau Christian Lacroix.

Para pesohor yang menyukai tas ‘Bagteria’ ini antara lain Paris Hilton, yang kepincut oleh tas rancangan Nancy yang dipamerkan dalam Fashion Week di AS. Selain Paris, bintang film cantik asal Perancis yang terkenal sebagai pasangan Tom Hanks di The Da Vinci Code, Audrey Toutou, juga merupakan peminat tas ‘Bagteria’. Nama lain adalah Emma Thompson dan putri Zara Phillips, cucu Ratu Elizabeth II.
Sejak awal, Nancy dan Bert memosisikan Bagteria sebagai produk ekspor. Sebagai langkah awal, mereka membidik Hongkong. Sebab Hongkong adalah kiblat mode Asia. Setelah mempelajari secara detail prospek pemasaran Bagteria, mereka memutuskan untuk berbisnis dengan konsep waralaba. Di tiap negara, mereka memilih satu distributor sebagai master franchise untuk menyebarkan Bagteria ke butik pilihan. Namun, perempuan kelahiran Brasil, 1963 ini mengecualikan Taiwan. Khusus untuk negara tersebut, Nancy melakukan bisnis secara kemitraan.

Setelah sukses di Hongkong, PT Metamorfosa Abadi mulai kebanjiran order. Pada 2003, mereka menjajaki untuk menembus pasar Jepang, yang terkenal sulit ditembus eksportir baru. Menurut Nancy importi Jepang sangat peduli terhadap kualitas. Sekali mereka dikecewakan maka tertutup sudah kesempatan eksportir, karena itu Nancy dan Bert sangat konsisten untuk menerapkan control kualitas bagi produk-produknya. Kini, Jepang merupakan salah satu negara dengan permintaan tas Bagteria tertinggi, di antara negara-negara Asia lainnya.

Memang Nancy sengaja tidak menjadikan Indonesia sasaran pertama pemasaran ‘Bagteria’. Untuk harga jual dalam negeri yang berkisar 1 – 8 juta per tas, masyarakat Indonesia masih menganggap harga tas itu terlalu mahal. Padahal ‘Bagteria’ memang menggunakan bahan baku yang unik seperti kristal swarovski, manik, payet, batuan semi-precious, hingga emas dan perak dalam ukuran milimeter semuanya dijahit secara teliti satu per satu. Dia pun menggunakan bahan dari bulu domba, kulit belut, piton, ostrich, kulit ikan salmon, dan gading mammoth. Untuk bahan-bahan ini, ia memesan langsung ke Siberia, Islandia, dan Afrika. Meski begitu, Nancy juga memanfaatkan bahan lokal, seperti kulit piton, kulit buaya, kerang, kayu, dan perak dari perajin Bali dan Yogya.

Wanita Muda Berhasil Menembus Pasar Fashion Dunia dengan Tas ‘Mimsy’
Selain nama ‘Bagteria’ dan Nancy Go, ternyata produk tas dari Indonesia ada juga yang berhasil memperoleh nama di dunia. Merek tas unik ini adalah ‘Mimsy’, buatan asli wanita Indonesia bernama Christyna Theosa yang baru berusia 27 tahun. Chrityna adalah seorang desainer lulusan desain grafis di Art Center College of Design, Pasadena, California, Amerika Serikat.

Sejak masih kuliah, Christyna memang hobi mendesain tas. Setelah mencoba berbagai jenis desain, Christyna akhirnya bisa membuat merek terkenal dengan jenis model clutch.

Berbeda dengan sejumlah pebisnis, Christyna memulai bisnis ini justru dimulai di Amerika. Dia menitip jual tas desainnya ke sebuah butik Indie di Santa Monica, California. Ternyata tas itu digemari oleh warga California. Lama kelamaan, dalam waktu singkat tas yang dia beri merek Mimsy ini menarik pelanggan di negeri Paman Sam itu. Ia kemudian diberi sudut khusus untuk memajang kreasi lebih banyak lagi.

Bahkan tas hasil desainnya itu sering melenggang di berbagai even internasional seperti fashion week di New York dan Las Vegas, juga di Jepang, Kanada, Sydney, Dubai, & Madrid.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar